Fatsun Kebudayaan: Pencanangan Kampung Bijak Sampah Berbasis Teknologi Hijau


Fatsun Kebudayaan

Pencanangan "Kampung Bijak Sampah" (꧁ꦏꦩ꧀ꦥꦸꦁꦧꦶꦗꦏ꧀ꦱꦩ꧀ꦥꦃ꧂) Berbasis Teknologi Hijau

Nur Subiyantoro, S.I.Kom.


ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

Yang saya hormati,

Bapak Agus Mashud S. Asngari, Presiden Direktur Pertamina Foundation

Bapak Dr. Ir. Widarjanto, M.M., Kepala BBPPM Yogyakarta (Balai Besar Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Yogyakarta)

Bapak Ari Budi Nugroho, S.T.,M.T., Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul

Ibu Sri Nuryanti, M.Si., Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan Kabupaten Bantul

Ibu Ir. Fenty Yusdayati, M.T., Kepala BAPPEDA Kabupaten Bantul

Ibu dan Bapak Panewu se-Kabupaten Bantul

Ibu dan Bapak Lurah di Kabupaten Bantul

Bapak-Bapak Kepala Dusun di Kalurahan Pleret, Kapanewon Pleret

Ibu dan Bapak dari Dunia Usaha dan Industri

Para budayawan, pegiat lingkungan hidup, komunitas bank sampah Jogja, komunitas difabel Jogja, komunitas Pegiat Aksara Jawa, para Sahabat wartawan/jurnalis/vlogger, serta para undangan yang saya banggakan.


Sungguh kehidupan yang terpuji serta paling hebat tiada tara hanyalah jika diatur sesuai dengan ilmu dan semesta keberkahan Tuhan yang Mahakasih dan syafaat Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Al-hamdu lillahi rabbil ‘alamin, dalam suasana proklamasi kemerdekaan 77 tahun Indonesia, kita diberkahi nikmat sehat dan rasa syukur untuk senantiasa memuliakan kehidupan dengan tindakan bersama merawat Bumi, khususnya Tanah-Air  Indonesia Raya.


Ibu dan Bapak yang saya muliakan.

Izinkan saya untuk mengilas kisah-kisah keseharian yang untuk sebagian besar adalah apa yang kita alami. Pada saat saya berbelanja paket makanan, misalnya, setelah membayar harganya, saya menerima paket makanan yang terbungkus dengan tas kresek berdesain label yang menarik. Ketika membuka paket, beberapa makanan juga dibungkus dengan kemasan yang memikat. Kreativitas desainer telah hadir lewat kemasan demi kemasan pembungkus produk apapun, bukan hanya makanan. 

Kisah ini berlanjut dengan perubahan fungsi tas kresek ketika sudah tidak lagi sebagai pembungkus makanan. Tas kresek masih bisa difungsikan untuk kepentingan yang lain: Sampai tas kresek itu rusak dan dianggap sebagai sampah. Sampah tas kresek, bersama sampah yang lain, berpindah tempat di keranjang sampah. Dari keranjang sampah selanjutnya akan berpindah di bank sampah, sampai akhirnya di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) atau tempat terakhir perlakuan sampah. 

Tahun-tahun terakhir ini kita semakin sering membaca pemberitaan dan penelitian tentang ada-apa dengan perlakuan sampah. Kita telah melaksanakan kewajiban sebagai warga negara dan konsumen untuk mengelola sampah sebagaimana peraturan yang berlaku. Kita juga mencermati angka-angka tentang produksi sampah. 


Ibu dan Bapak yang saya hormati.

Kisah tentang sampah dalam pengertian yang modern dimulai 262 tahun yang lalu sejak Revolusi Industri pada 1760. Sedangkan tas kresek dikenali dari kisah John Wesley Hyatt yang memenangkan sayembara pengganti gading alami oleh perusahaan New York, Amerika Serikat. Saat itu, popularitas olah raga biliar telah membebani rantai pasokan gading dari gajah liar. Hyatt menciptakan plastik (“lentur dan mudah dibentuk”) dengan hadiah US$ 10.000 dollar. Popularitas “plastik” pengganti gading alami untuk biliar sekaligus untuk peruntukan yang lain. Kisah 153 tahun popularitas plastik dapat kita simak dari data berikut. Pada 1950, produksi sekitar 2 juta ton plastik setiap tahun. Pada 2019, produksi 368 juta ton dengan 47 persen untuk kemasan. Menurut para ahli, pada 2050, sebanyak 12 miliar ton plastik akan menumpuk di tempat pembuangan akhir di Bumi. Kisah semakin mengharu biru dengan mode lebih dari satu juta tas kresek beragam desain digunakan setiap menit secara global. Artinya, plastik sebagai limbah sampah telah menjadi permasalahan global. Konsekuensinya, cita bank sampah niscaya diopotimalkan dan pendekatan daur-ulang sampah sudah tidak memadai. Plastik yang begitu mudah dibentuk dan terlalu kuat menjadi limbah sampah yang sedemikian banyak dan sekaligus berbahaya untuk kehidupan: Pada akhirnya, Ibu-Bumi yang menanggung dari produksi-konsumsi plastik. 

Kisah di atas menjadi dasar permintaan maaf saya yang telah “menyumbang” tas kresek pembungkus paket makanan dan menjadi residu sampah untuk Ibu Pertiwi. Di dalam suasana keprihatinan untuk tetap merawat Bumi atau mêrti Bumi dari residu sampah inilah, pertama-tama, saya mengajak hadirin untuk menyudahi pertentangan “yang alami” vis-à-vis “yang berbudaya” sebab kreativitas keduanya tetap menghasilkan sampah, termasuk sampah plastik. Ibu Pertiwi akan semakin menderita jika kita tidak “cèkat cèkêt” (cepat dan cermat) menjawab pokok soal limbah sampah yang semakin berbukit-bukit. 

Yang kedua, izinkan saya mengajak hadirin untuk berhening dengan strategi kebudayaan di zaman limbah sampah dewasa ini. Kita butuh pembacaan dengan data, dengan kebeningan rasa, bahwa sikap boros bukanlah bawaan manusia. Sikap boros atau berlebih-lebihan lebih dibentuk kepentingan produksi-konsumsi. Dari data sampah (plastik) di atas, kita yang berikhtiar untuk memuliakan kehidupan -- sudah saatnya -- mendengarkan nyanyian Ibu Pertiwi, Bumi di mana kita tinggal dan dan akan kembali ke Bumi. Kita butuh mengikhtiarkan laku kebudayaan mêrti Bumi yang menjaga keberlanjutan manusia dan bukan melulu sebagai konsumen. Kita butuh bersikap bijak dengan bagaimana-menyampah.


Ibu dan Bapak narasumber, undangan, dan para penggembira.

Saya bersyukur, di dalam keprihatinan ini, bisa bersama dengan komunitas yang telah berikhtiar dan bertindak untuk menjaga harapan Ibu Pertiwi. Saya merasa terhormat didaulat sebagai pengasuh komunitas Bijak Sampah Indonesia. Dan saya bangga bahwa tetap ada anak bangsa yang mengembangkan dan menerapkan teknologi yang menghijaukan Ibu Pertiwi dari ledakan kisah besar persampahan di planet Bumi.

Komunitas Bijak Sampah Indonesia yang membidani gerakan “Kampung Bijak Sampah” (꧁ꦏꦩ꧀ꦥꦸꦁꦧꦶꦗꦏ꧀ꦱꦩ꧀ꦥꦃ꧂). Sebagai gerakan sosial, Kampung Bijak Sampah akan menjaga bangunan sosial keindonesiaan yang normatif lebih baik dalam tata kelola pengolahan sampah, bahkan  sampah residu sampah. Kampung Bijak Sampah menjaga visi menyelesaikan sampah di tingkat desa/kalurahan/gampong di Indonesia. Kampung Bijak Sampah menunai tanggung gugat untuk misi:

1. Sistem pengelolaan sampah yang efektif dan efisien dari tingkat paling bawah

2. Teknologi berbiaya terjangkau sebagai solusi tuntas sampah

3. Sampah menjadi produk bernilai ekonomi dan ramah lingkungan

4. Kesadaran mengelola sampah dari rumah tangga

5. Keterlibatan dan dukungan pemerintah setempat


Berdasar tanggung gugat di atas, Kampung Bijak Sampah bertujuan: 

1. Mengurangi jumlah sampah residu secara signifikan

2. Revitalisasi kelompok pengelola sampah mandiri berbasis masyarakat

3. Mendorong tumbuhnya kelompok-kelompok pengelolaan sampah di masyarakat

4. Meningkatkan jumlah sampah terkelola di tingkat Rumah Tangga

5. Meningkatkan keterlibatan pemuda dalam pengelolaan sampah

6. Mendorong regulasi dan implementasi pengelolaan sampah


Ibu dan Bapak yang saya muliakan.

Bersikap sebagai antroposen adalah tanggung jawab untuk melaksanakan panggilan Ibu Pertiwi, yaitu memuliakan kehidupan dengan tindakan bersama merawat Bumi. Dengan “jêmparingan” (memanah gaya Mataraman), kita belajar dari risalah abad ke-17, saat Eyang Sultan Agung Adi Prabu Anyakrakusuma menulis “Sastragêndhing.” Berbekal “Sastragêndhing” Susuhunan Agung inilah, di abad ke-21 sekarang, kita melepas busur panah ke abad mendatang untuk tetap merawat Bumi.


Izinkan saya, bersama doa Panjenengan (-Dalem) dan warga bangsa, untuk mengajak dan mengelola gerakan Kampung Bijak Sampah. Pada hari ini, 18 Agustus 2022, dalam penanggalan Sultan Agungan adalah Kamis Legi, 20 Sura 1956, di Joglo Semar Badranaya Subyantaran (꧅ ꦗꦺꦴꦒ꧀ꦭꦺꦴꦱꦼꦩꦂꦧꦢꦿꦤꦪꦱꦸꦧꦾꦤ꧀ꦠꦫꦤ꧀꧅), saya mencanangkan “Gerakan Kampung Bijak Sampah Berbasis Teknologi Hijau.” Semoga semua makhluk terlimpahkan keberkahan Sang Pencipta. 


Gerakan Kampung Bijak Sampah adalah dukungan kepada pemerintah dalam pengembangan ekonomi sirkular untuk mencapai Indonesia Bersih Sampah 2025. Kampung Bijak Sampah sekaligus menjawab 11 tujuan (dari 17) Tujuan Pembangunan Berkelanjutan untuk Indonesia. Dari Pleret, Bantul, DIY, kita bersama-sama membersamai Gerakan Kampung Bijak Sampah untuk merawat bangunan sosial tata kelola pengolahan sampah dari desa/kalurahan/gampong di pelosok negeri, di planet Bumi. 

Duh Gusti Pangiran mami

Lah kepriye, lelakon suniki

Sapa bisa dadi prajurit ing jagad

Dikake nanggung umure 

Wus kersanira Zuwang Agung

Nora kèlilan anyulayani

“Katampi Sêkar Pangkur Panyuwunan”

Shalawat Êmprak Sunan Kalijaga, bagian 4.


Demikian fatsun ini, matur sêmbah nuwun untuk apresiasi Ibu dan Bapak, dan sluman, slumun sehat-slamêt. 

Wallahul muwafiq ila aqwamith thariq.

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Joglo Semar Badranaya Subyantaran (꧅ ꦗꦺꦴꦒ꧀ꦭꦺꦴꦱꦼꦩꦂꦧꦢꦿꦤꦪꦱꦸꦧꦾꦤ꧀ꦠꦫꦤ꧀꧅)

Pleret, Bantul

18 Agustus 2022  ǀ Kamis Legi, 20 Sura 1956 

Nur Subiyantoro, S.I.Kom.

Pengasuh Kampung Bijak Sampah


Pembawa acara: Sri Eva Ritawati S.E.

Komentar